Petani Jeruk Desa Air Talas Hampir Putus Asa



 Prabumulih, POTRETSUMSEL.ID--Untuk mengubah jalan hidupnya kandas hancur berantakan. Keputusan untuk mengadu nasib di bumi Sumatera ternyata membawa Khairil Anam (39) masuk ke dalam masa kelam. 1.500 pohon jeruk yang di tanam di lahan seluas 2 hektar (ha) yang jadi harapan hancur, mati hanya dalam waktu 8 hari. “Kiamat” datang begitu cepat.


Khairil menceritakan tahun 2000 dia diajak oleh pamannya untuk memulai kehidupan baru di desa Air Talas, Kecamatan Rambang Niru Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan menjadi petani jeruk. Namun apa mau dikata, tahun 2002 hama datang tanpa peringatan. Ribuan pohon jeruk yang dia tanam hancur diserang hama. Ternyata nasib buruk itu tidak hanya dialami Khairil, tanah di desa Air Talas yang selama ini dikenal sebagai penghasil jeruk diserang hama secara masif. Bahkan untuk menanam jenis tanaman lain juga tidak bisa. Desa penghasil jeruk alami mati suri karena selama beberapa tahun mulai dari tahun 2005 tanah di desa Air Talas tidak ditanami apapun hingga serangan hama secara perlahan berakhir sekitar tahun 2012.

Ternyata pembuatannya harus steril jadi pakai alkohol 70% dulu,” kata, Khairil kepada portal ini di gedung Patra pertamina, Selasa (28/02).

Tricoderma sangat ampuh dalam menahan serangan jamur upas. Khairil menjelaskan bahwa tricoderma berfungsi sebagai pelindung akar, agen hayati yang mampu menekan jamur bakteri lain kemudian membenahi sifat tanah yang keracunan akibat penggunaan pupuk unorganik serta tentu saja menetralkan ph tanah.

Penggunaan tricoderma organik ini selain lebih efektif menghalau hama juga jelas jauh lebih efisien ketimbang harus melawan hama menggunakan cairan kimia. Dalam setahun Khairil hanya harus menyediakan dana sekitar Rp200 – Rp300 ribu untuk membuat tricoderma karena ada beberapa bahan yang tetap harus dibeli. Sisanya bahan-bahan tersedia secara gratis seperti limbah dapur berupa nasi putih, air cucian beras serta air hujan. Berdasarkan data yang dihimpun food waste sebanyak 17,6 ton/tahun. “Untuk 200 pohon itu Rp200 – Rp 300 ribu se tahun untuk beli molase (tetes tebu) atau gula merah. Sementara bahan kimia beli NPK 1 juta untuk 200 tanaman beli empat sak itu bulan pertama setahun. Ditambah obat-obatan lain total satu kali aplikasi biayanya Rp7 juta total satu tahun Rp21 juta . Per tahun kita bisa dapat Rp50 juta kalau pakai kimia 45% habis untuk perawatan aja,” ujarnya.


Penggunaan tricoderma juga sudah dibuktikan Khairil jauh lebih menguntungkan karena umur tanaman jauh lebih panjang serta saat musimnya dia bisa panen 4-5 kali dalam setahun. “Ini saya sudah delapan tahun tidak rusak. Kalau yang gunakan anorganik saat siklus pertama bagus tapi 5-6 tahun mulai ada kerusakan, petani sulam lagi tapi baru 1 tahun sudah rusak. Itu gara-gara unorganik tinggi,” jelas Khairil.

Share on Google Plus

About Potret Sumsel

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 Comments:

Posting Komentar